Rabu, 25 Februari 2009

Pendidikan pemotongan lingkaran setan kemiskinan


Kemiskinan merupakan persoalan yang rumit, pada kondisi miskin, seseorang merasa resah dan gelisah. Para guru-guru menjelaskan kemiskinan itu dicirikan dengan orang yang tidak memiliki penghasilan tetap, hidup dijalanan, hidup ditepi pantai, hidup dibawa kolong jembatan, hidup di hutan, hidup di rumah kumuh di tepi-tepi sungai, dibawah kolong jembatan tol yang megah. Orang miskin identik dengan orang yang tidak bersekolah, memiliki latar belakang pendidikan yang rendah dan kebanyakan tidak tamat Sekolah Dasar, mengkonsumsi makanan kurang dari 2000 kalori perhari. Guru kita juga mengajarkan Negara miskin itu ciri-cirinya adalah Negara yang memiliki penduduk banyak yang tidak makan (kelaparan), terjerat oleh hutang luar negeri yang tinggi, penduduk banyak, produktivitas nasional rendah, pemerintahan, lembaga sosial politik dan bisnis korup, masyarakatnya selalu membudayakan hidup dalam budaya konsumerisme, produktivitas rendah, kemampuan masyarakat untuk menabung hampir tidak ada, sehingga akumulasi modal rendah akibatnya investasi rakyat tidak ada, pada akhirnya memberikan dampak pada terbatasnya kesempatan kerja.

Pemerintahan di negara-negara miskin termasuk Indonesia telah berjuang sekuat tenaga untuk mengatasi kemiskinan ini namun hasilnya juga belum menunjukkan hasil sebanding dengan kemajuan Negara lain seperti Malaysia, Korea Selatan atau China. Kenapa ini terjadi..? Secara teoritis jawabannya barangkali bisa dijawab dengan berbagai argumentasi, secara mendasar sesungguhnya keseriusan kita menentukan keberhasilan program-program tersebut, dan kita bisa dikategorikan termasuk bangsa yang kurang serius dan tidak konsisten menjalankan program-program pengentasan kemiskinan. Orang-orang bijak mengungkapkan sebuah sistem kalau dijalankan secara konsisten akan menampakkan hasil namun jika tidak dilaksanakan secara konsisten maka hasilnya juga tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Namun kebiasaan sistem pengelolaan Negara kita justru banyak yang tidak konsisten, setiap pergantian pimpinan puncak maka selalu diiringi dengan perubahan sistem dan cenderung tidak konsisten seperti yang yang terjadi dalam pengelolaan pendidikan, ekonomi dan prioritas pembangunan sehingga banyak pekerjaan yang terbengkalai dan tidak memberikan kemanfaatan yang berarti termasuk soal penanggulangan kemiskinan.

Penanggulangan jumlah orang miskin sejak orde lama, baru dan orde sekarang nampaknya tidak mengalami perubahan. Pada masa orde baru penanggulangan kemiskinan dilakukan dengan program inpres desa tertinggal dalam bentuk bantuan dana tunai kepada masyarakat untuk berusaha, hasilnya tentu saja ada namun tidak sebanding dengan pengeluaran dana yang telah dikeluarkan. Program tersebut memberikan kenikmatan sesaat pada sekelompok orang-orang yang dekat dengan kekuasaan hari itu. Namun ibarat orang haus ketika diberikan segelas air, hausnya lepas pada saat itu namun beberapa waktu kemudian haus datang lagi..namun air sudah habis. Pada masa orde reformasi program pengentasan kemiskinan dilakukan dengan berbagai usaha salah satunya adalah program KUT (kredit usaha tani) Program itu diklaim oleh mantan menterinya waktu itu telah berhasil meningkatkan produksi padi nasional. Dalam aspek pengembalian kredit tani tersebut nampakna masih rendah. Hasil penelitian dari lembaga independen tahun 2004 menunjukkan tingkat pengembalian kredit KUT paling tinggi hanya 13 % ke –bank pelaksana. Orde pasca Reformasi (saat ini) penanggulangan kemiskinan dilakukan dengan usaha bantuan tunai langsung subsidi BBM, operasi pasar, layanan kesehatan (Askeskin) dan lain-lain. Hasilnya sebagian masyarakat telah mendapatkan tunjangan tunai langsung dengan sejumlah rupiah. Namun disisi lain ada kasus kepala desa atau jorong yang tewas karena tidak tepat waktu membagikan bantuan tunai langsung.

Minggu, 22 Februari 2009

Pembangunan Masyarakat

Rumah tangga keluarga merupakan, bagian terkecil dari masyarakat, keluarga merupakan tempat berlangsungnya proses penciptaan nilai, budaya, pengetahuan dan tingkah laku. Jika keluarga mampu tercipta dengan baik maka masyarakat tentu juga akan semakin baik.

Pembangunan masyarakat hendaklah dimulai dari individu, keluarga khususnya pada usia sekolah.
Visi pembangunan sumberdaya manusia menjadi saat penting tatkala perubahan lingkungan global yang selalu berubah

Rabu, 21 Januari 2009

Eksistensi anak Nagari Muaro

Bersama Wapres Hamzah Haz di Istana Wakil Presiden - Jakarta-2003
Belajar IT di The University of Queensland
Sedang santai di Gatton- QLD- Australia

Kamis, 15 Januari 2009

Indahnya di Pasaman






Indahnya di Kampung bersama keluarga, masyarakat........................................

Meresapi udara Pegunungan Pasaman

Disinilah aku lahir, hidup, berkembang dan dengan udara yang sejuk ini, kita raih kemajuan

Kamis, 08 Januari 2009

YULHENDRI

Impian Membangun Kampung

Visi Pembangunan Daerah
Daerah sejahtera

Terciptanya masyarakat yang harmonis dan taqwa dan berlakunya sistem ekonomi yang adil serta mempertegas peran pemerintah daerah untuk meningkatkan layanan kesejahteraan kepada masyarakat.

Misi

1. Mempertinggi tingkat ketakwaan dan modal manusia daerah melalui peningkatan tingkat pendidikan penduduk
2. Mempertinggi tingkat produkvitas pertanian dengan intensifikasi pertanian dan peningkatan kualitas Sumber Daya Petani
3. Mengembangkan Skala ekonomi pada usaha-usaha pertanian dan perkebunan dan menciptakan transformasi pertanian
4. Menciptakan pemerintahan yang bersih dan hemat untuk meningkatkan investasi publik pada pembangunan Sumber Daya Manusia (human capital) untuk mempertinggi taraf kehidupan penduduk secara keseluruhan

Strategi

1. Pemerintah perlu mendorong produktivitas penduduk dengan memfokuskan pembiayaan APBD pada peningkatan modal manusia : mempertinggi keahlian petani dalam menguasai teknologi pertanian : pengolahan lahan, pembibitan, pemupukan, pemeliharaan pohon/tanaman dan manajemen pasca panen. Menetapkan produk unggulan sebagai upaya untuk mencapai skala ekonomi sehingga memiliki daya saing pada pasar global dan pengembangan sektor industry pertanian.
2. Pemerintah juga perlu mendorong lahirnya generasi muda yang unggul, dan memiliki kecakapan, keahlian dan bahasa internasional untuk masuk pada era globalisasi. Dengan pengalokasian APBD pada pembiayaan pendidikan pada sekolah tingkat lanjutan tingkat pertama dan atas dan mengupayakan sekolah gratis pada tingkat SLTA (SMA/MA/SMK) sehingga tingkat pendidikan penduduk akan lebih tinggi. Dan juga memberikan beasiswa kepada generasi muda daerah pada program studi yang langka dan memiliki prospek masa depan yang lebih baik
3. Pemerintah mesti mengurangi biaya administrasi publik dan menambah pengadaan barang modal daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi : Irigasi, Jalan, jembatan, pasar dan insentif investasi pada pengembangan pabrik-pabrik dengan bahan baku hasil pertanian.
4. Pemerintah mesti mempertinggi anggaran untuk pelayanan kesehatan masyarakat untuk penyediaan layanan kesehatan yang cukup hinga sampai ke tingkat Jorong